Apa untungnya menjadi mahasiswa?

Pertanyaan tersebut muncul saat saya mendapat kesempatan studi lanjut kembali (oleh Tuhan dan pemerintah Indonesia) di usia yang tidak muda lagi :). Berikut beberapa pemikiran sederhana saya.

Menjadi mahasiswa (atau pembelajar dalam tahap manapun) memiliki keuntungan besar : kebebasan.

Happy group of students

Mengapa bebas? Saat anda menjadi mahasiswa, anda diberi kebebasan untuk mengelola hidup anda sendiri. Menjadi mahasiswa sebuah PT tentunya sangat berbeda dengan menjadi siswa SMA. Terlebih untuk anda yang tinggal jauh dari orang tua, anda memiliki kebebasan (dan tanggung jawab) untuk mengelola uang, waktu, … hidup anda sendiri. Kebebasan ini agak “menakutkan”, namun jika berhasil dilewati akan memberi pendewasaan yang luar biasa untuk anda. Baca lebih lanjut

Perlukah Dosen mengerjakan “proyek”?

Pertanyaan di atas sering menjadi pemikiran saya sebagai dosen. Bagaimana menurut pendapat Anda?

Saya ingin mengetengahkan sisi negatif dan positif dari dosen yang mengerjakan “proyek”. Proyek yang dimaksud di sini tentunya proyek yang berhubungan dengan keilmuan yang digeluti, bukan bisnis sampingan yang sifatnya non teknis. Selain itu saya juga tidak membahas tentang alasan ekonomi, karena saat seseorang menjadi dosen (di Indonesia) seharusnya ia siap dengan standar hidup yang sedikit lebih rendah dibanding orang yang bekerja di kantor/industri.

Sisi positif

Saat dosen mengerjakan proyek di industri, dia akan dapat melihat dengan jelas dan nyata penerapan ilmunya di lapangan. Hal ini juga membuat dia lebih “up to date” secara keilmuan, karena (di Indonesia) sering kali kecepatan teknologi di industri lebih cepat daripada di kampus. Kemampuan dosen untuk melakukan troubleshooting juga akan lebih terasah, karena sering kali situasi di lapangan tidak seideal sitasi di ruang kelas/laboratorium. Baca lebih lanjut

Mempersiapkan Mata Kuliah Baru

Semester ini saya akan mengajar Mata Kuliah yang baru di jurusan saya. Apa ya yang harus saya siapkan? Setelah berpikir sejenak, berikut hal – hal yang harus saya siapkan :

1. Mempersiapkan content

Content atau isi adalah “bahan utama” dari suatu Mata Kuliah. Saya sebagai dosen harus menguasai topik MK sebaik mungkin. Saya perlu membaca (dan memahami) topik tersebut dari beberapa buku teks yang ada di perpustakaan. Diskusi dengan kolega dosen ataupun browsing di internet akan membantu pemahaman (dan pendalaman) topik tersebut.

2. Mempersiapkan presentasi

Karena saat ini hampir setiap MK dibawakan melalui presentasi Power Point, hal berikutnya yang harus dilakukan ialah mempersiapkan presentasi. Menterjemahkan pemahaman (dari buku teks) ke dalam presentasi yang baik dan menarik itu tidak mudah. Saya harus mengartikulasikan pemahaman tersebut ke dalam beberapa baris tulisan singkat (plus gambar).  Salah satu catatan saya, lebih baik membuat presentasi sendiri (meski sederhana), daripada menggunakan presentasi orang lain (yang sekarang bisa didapat dengan gampang dari internet). Baca lebih lanjut

Web 2.0 bagi Pendidik – Pendahuluan

Apakah anda seorang pendidik? Guru atau dosen mungkin? Jika iya, apakah Anda sudah memanfaatkan internet sebagai alat untuk membantu proses pembelajaran anak didik Anda? Jika Anda belum melakukannya, mari mulai berpikir untuk menerapkannya!

Internet di era sekarang disebut dengan Web 2.0. Apa artinya? Internet generasi ke dua ini menekankan pentingnya kolaborasi dan interaksi dari pembuat dan pengguna web.

Secara sederhana, hal ini tentu sangat membantu para siswa/mahasiswa untuk belajar lebih baik. Bayangkan jika kapanpun dan dimanapun mereka masih bisa “terhubung” dengan rekan – rekan (maupun guru/dosennya) untuk berdiskusi tentang hal – hal akademis. Wow!

Secara pribadi, saya mulai menyadari pentingnya internet untuk media pembelajaran dengan membuat blog yang berhubungan dengan bidang ilmu saya. Beberapa ulasannya sudah saya sampaikan di posting sebelumnya.

Hal ini berlanjut saat saya menemukan buku bagus berjudul “Web 2.0 – Panduan bagi Para Pendidik” (Penerbit Indeks, 2011). Dari buku itu, saya mendapatkan banyak wawasan bahwa banyak sekali tool di internet yang dapat digunakan untuk membantu anak didik dalam belajar. Blog, Facebook, Twitter, podcast, Wikipedia, adalah beberapa terminologi internet populer yang dibahas dalam buku ini.

Saya berharap bisa membahasnya (disertai dengan pengalaman pribadi) pada posting – posting mendatang.

Happy teaching!

Rahasia Sukses Pendiri Google (1)

Google? Mungkin “ia” adalah sahabat terbaik pengguna internet. Kemampuannya memberikan hasil pencarian dengan cepat, akurat, dan (nyaris) bebas iklan sangat disenangi banyak orang. Saat ini Google menjadi perusahaan raksasa tingkat dunia.

Apa rahasia sukses para pendiri Google?

 

Latar belakang dan budaya keluarga

Sergey Brin dan Larry Page memiliki banyak kesamaan latar belakang. Mereka telah mengenal komputer sejak masih di usia SD, di bawah bimbingan orang tua yang menggunakan komputer dan matematika canggih baik di rumah maupun di kantor (kebetulan ayah mereka adalah profesor yang disegani).

Keduanya sama – sama dibesarkan dalam keluarga dengan adu otak sebagai menu sehari – hari. Belajar mempertahankan gagasan yang diyakini secara mati – matian membuat mereka memiliki kedalaman intelektual yang sulit ditandingi oleh orang semuda mereka. Mereka digambarkan orang lain : “cerdas, ramah, dan agak eksentrik”. Baca lebih lanjut

Ekonomi Pengetahuan Ala Indonesia

Anda pernah mendengar tentang “ekonomi pengetahuan”? Secara sederhana, ekonomi jenis ini tidak lagi mendasarkan dirinya pada sumber daya alam yang melimpah, namun lebih menekankan pada pentingnya sumber daya manusia dengan tingkat pengetahuan tinggi. Di era modern ini, barangsiapa menguasai pengetahuan (meski miskin sumber daya alam) akan menjadi yang terdepan.

Dan percaya atau tidak, sebenarnya bangsa kita tercinta juga memimpikan hal yang sama. Prof Zuhal mengutip bahwa misi Indonesia di tahun 2025 ialah

Mewujudkan bangsa yang berdaya saing lewat penguasaan dan pemanfaatan IPTEK

Lebih lanjut beliau menyatakan bahwa untuk mewujudkannya diperlukan hubungan segitiga antara :

  • Penguasaan IPTEK
  • Daya saing
  • Knowledge based economy

Misi di atas tentunya hanya sekedar mimpi jika tidak diukung tatanan sistem ekonomi politik Indonesia yang kondusif. Untuk menciptakannya, perlu dipahami bahwa sumber daya manusia (human capital) adalah aktor utama dalam sistem inovasi nasional (Sinas). Human capital yang diinginkan bangsa ini harus memiliki :

  • etika moral dan kemanusiaan
  • semangat nasionalisme dan kerakyatan
  • mengutamakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Namun demikian, human capital bukanlah sistem yang berdiri sendiri, namun harus berproses dengan tiga unsur berikut : Baca lebih lanjut

Mengajar mahasiswa untuk menjadi “pembelajar seumur hidup”

Sebagai dosen di kampus, tantangan besar yang harus dihadapi ialah bagaimana menolong mahasiswa untuk menjadi “pembelajar seumur hidup“.

Apa artinya?

Sangat mungkin bagi dosen dan mahasiswa di Indonesia untuk kembali mengulang pola pendidikan yang telah didapat sebelumnya. Sudah menjadi rahasia umum kalau anak – anak Indonesia lebih cakap menghafal ataupun menggunakan rumus untuk mengerjakan soal. Namun mereka (bahkan pengajar seperti saya) kurang cakap dalam menganalisa maupun memahami alasan di balik penggunaan rumus.

Pada akhirnya, mahasiswa (atau sebelumnya siswa) hanya menjadi pengulang yang tidak kreatif dan inovatif dalam memcahkan masalah. Apalagi jika dihadapkan pada permasalahan baru yang belum ada sebelumnya. Dengan kata lain, mahasiswa hanya menjadi pembelajar dalam masa kuliah dan karena diminta oleh dosen (selain orang tua dan pacar 🙂 ).

Baca lebih lanjut

Quantum Teaching – sebuah ringkasan

Pernah mendengar atau membaca tentang Quantum Teaching? Kalau anda seorang guru atau dosen mungkin sudah sangat sering mendengar tentang konsep yang dikemukakan Bobby De Porter ini ya.

Saya mencoba meringkas dan mengadaptasi QT untuk keperluan mengajar saya di kampus. Semoga semester depan bisa saya terapkan. Here they are.

Asas Utama

Asas utama Quantum Teaching :

“Bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”.

Kita perlu masuk dulu ke dalam dunia mahasiswa. Dapatkanlah wewenang dan hak untuk memasuki dunia mereka. Wewenang itu akan diberikan mahasiswa dengan sukarela, jika Anda memperlakukan mereka sebagai manusia. Manusia dewasa dengan segala aspek kepribadiannya.

Setelah kaitan itu terbentuk, barulah Anda dapat membawa mereka ke dalam dunia Anda. Di sinilah hal – hal baru Anda beberkan kepada mereka, sehingga pada akhirnya mereka memahami isi dunia Anda, dan membawanya ke dalam dunia mereka sendiri (sebagai milik pribadi mereka).

Model Quantum Teaching

Unsur – unsur dari “simfoni” pembelajaran Anda adalah : konteks dan isi. Baca lebih lanjut

Apa yang perlu diajarkan kepada mahasiswa?

Besok saya akan mengajar mahasiswa saya kembali di semester yang baru ini. Saya mencoba me-refresh dengan menanyakan :

Apa yang perlu diajarkan kepada mahasiswa?

UNESCO memberikan tujuan belajar sebagai berikut :

  1. Learn to know
  2. Learn to do
  3. Learn to be
  4. Learn to live together

Namun saya mempunyai “perjalanan” saya sendiri untuk menemukan hal tersebut. Mari mundur ke masa lalu.

Dalam benak saya sebagai dosen baru (5 tahun yang lalu), tentunya saya akan memberikan pada mereka ilmu pengetahuan yang saya miliki. Istilahnya mungkin “knowledge transfer”. Pada periode ini, saya berusaha keras untuk menguasai materi, menyiapkan presentasi, merancang kerangka pengajaran, dan lain – lain.

Setelah 1 sampai 2 tahun mengajar, saya melihat bahwa tidak semua ilmu yang saya ajarkan akan berguna di dunia kerja. Sehingga saya mulai mencoba menyesuaikan materi kuliah dengan kebutuhan di dunia kerja. Kadang saya bertanya kepada para alumni senior, kakak tingkat, mantan mahasiswa, untuk mencari tahu apakah ilmu yang saya ajarkan terpakai atau tidak? Memang hal ini tidak mudah, tapi saya terus berusaha untuk melakukannya. Baca lebih lanjut

Arti sebuah kesempatan (buat kamu – kamu yang bosan kuliah)

Apakah Anda pernah merasa bosan kuliah? Malas, jenuh dan merasa benci setengah mati mengikuti perkuliahan di kampus?

Jika iya, coba pikirkan lagi.

Pernahkah memikirkan apa yang membedakan kita (yang dapat mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi) dengan orang lain? Saya sering kali mengamati banyak orang mulai yang muda sampai lanjut usia harus bekerja keras membanting tulang untuk memperoleh sesuap nasi. Mereka yang menarik becak, menambal ban, berjualan asongan, dan beribu pekerjaan kasar lainnya. Apa yang membuat saudara sebangsa kita ini harus mengalami kesulitan sedemikian?

Saya yakin salah satu jawabannya ialah karena mereka tidak memiliki pendidikan memadai untuk memperoleh pekerjaan yang lebih layak.

Menurut Bambang Widianto (staf ahli Menneg PPN bidang SDM dan Kemiskinan) hanya 2.7% rakyat Indonesia yang berhasil lulus S1. “Jadi kalau Anda lulus S1, itu elit sekali,” begitu tutur beliau. Melihat statistik yang sedemikian, berarti Anda, mahasiswa, lebih beruntung dibanding 97.3% rakyat Indonesia lain yang tidak punya kesempatan untuk kuliah. Baca lebih lanjut