Apa untungnya menjadi mahasiswa?

Pertanyaan tersebut muncul saat saya mendapat kesempatan studi lanjut kembali (oleh Tuhan dan pemerintah Indonesia) di usia yang tidak muda lagi🙂. Berikut beberapa pemikiran sederhana saya.

Menjadi mahasiswa (atau pembelajar dalam tahap manapun) memiliki keuntungan besar : kebebasan.

Happy group of students

Mengapa bebas? Saat anda menjadi mahasiswa, anda diberi kebebasan untuk mengelola hidup anda sendiri. Menjadi mahasiswa sebuah PT tentunya sangat berbeda dengan menjadi siswa SMA. Terlebih untuk anda yang tinggal jauh dari orang tua, anda memiliki kebebasan (dan tanggung jawab) untuk mengelola uang, waktu, … hidup anda sendiri. Kebebasan ini agak “menakutkan”, namun jika berhasil dilewati akan memberi pendewasaan yang luar biasa untuk anda.

Hal lain yang sangat berharga ialah anda bebas belajar hal – hal yang anda sukai. Karena itu penting untuk menemukan minat anda sebelum kuliah. Jika anda benar – benar menyukai bidang studi anda, menjadi mahasiswa bisa sangat nikmat. Tiap hari akan menjadi pencarian “harta karun” ilmu pengetahuan yang menyenangkan. Mengetahui hal – hal baru yang anda sendiri tidak bisa bayangkan sebelumnya. Kebebasan ini mungkin akan berhenti saat anda bekerja, karena bisa jadi anda akan mendapat tugas lain dari pimpinan (misalnya tugas – tugas administratif yang hampir selalu ada dalam setiap jenis pekerjaan).

Kebebasan lain yang didapatkan sebagian besar mahasiswa ialah kebebasan untuk tidak menghasilkan uang. Aneh? Tidak juga, karena akan ada waktunya anda harus mencari nafkah dan memenuhi kebutuhan keluarga anda, sehingga anda tidak bisa bebas melakukan hal – hal yang ingin anda lakukan. Saat menjadi mahasiswa, anda bisa bebas belajar, berkreasi, membangun jaringan, melakukan hobi, dan sederet hal – hal lain yang positif. Karena itu masa – masa ini haruslah anda nikmati, rayakan dan manfaatkan sebaik mungkin.

Jenis kebebasan lain bagi mahasiswa ialah kebebasan waktu. Karena jadwal kuliah yang tidak padat, maka mahasiswa bisa belajar tanpa terikat jam “9 to 5” seperti di kantor. Jika sedang tertarik akan suatu masalah, anda bisa menggelutinya sampai dini hari, dan bangun agak telat keesokan harinya🙂. Hal ini tidak akan bisa anda lakukan setelah selesai menjadi mahasiswa. Saya sendiri bukan orang yang senang terikat waktu, sehingga fleksibilitas ala mahasiswa sangat saya sukai.

Kebebasan terakhir dalam pandangan saya ialah bebas untuk menemukan jati diri anda. Saya pribadi lebih senang dengan istilah bebas menemukan tujuan yang diberikan Pencipta saya untuk diri saya sendiri. Saya bisa banyak merenung, membaca, dan mengeksplorasi diri untuk menemukan hal terbaik yang bisa saya kontribusikan untuk orang lain, bangsa, dan dunia.

Jadi apakah anda merasa untung menjadi mahasiswa?

Perlukah Dosen mengerjakan “proyek”?

Pertanyaan di atas sering menjadi pemikiran saya sebagai dosen. Bagaimana menurut pendapat Anda?

Saya ingin mengetengahkan sisi negatif dan positif dari dosen yang mengerjakan “proyek”. Proyek yang dimaksud di sini tentunya proyek yang berhubungan dengan keilmuan yang digeluti, bukan bisnis sampingan yang sifatnya non teknis. Selain itu saya juga tidak membahas tentang alasan ekonomi, karena saat seseorang menjadi dosen (di Indonesia) seharusnya ia siap dengan standar hidup yang sedikit lebih rendah dibanding orang yang bekerja di kantor/industri.

Sisi positif

Saat dosen mengerjakan proyek di industri, dia akan dapat melihat dengan jelas dan nyata penerapan ilmunya di lapangan. Hal ini juga membuat dia lebih “up to date” secara keilmuan, karena (di Indonesia) sering kali kecepatan teknologi di industri lebih cepat daripada di kampus. Kemampuan dosen untuk melakukan troubleshooting juga akan lebih terasah, karena sering kali situasi di lapangan tidak seideal sitasi di ruang kelas/laboratorium.

Sebagai tujuan akhir, tentunya dosen diharapkan dapat membekali mahasiswa dengan ilmu yang lebih tepat guna dan “dapat dijual” di industri. Pihak industri juga lebih puas karena mereka mendapat lulusan yang lebih siap kerja. Selain ilmu, dosen juga dapat membagikan tentang gaya dan suasana kerja di industri yang lebih berfokus pada hasil, terikat deadline, dll.

Lebih jauh lagi, dosen dapat melibatkan mahasiswa dalam tim yang mengerjakan proyek dari industri. Hal ini akan sangat membantu mahasiswa untuk siap di dunia kerja. Tentunya dengan proporsi waktu dan energi yang tepat, mengingat mahasiswa juga masih punya banyak kewajiban yang lain.

Sisi negatif

Namun demikian juga ada sisi – sisi negatif dari hal ini. Karena proyek di industri seringkali menuntut waktu lebih banyak, terkadang dosen dapat meninggalkan tugas utamanya untuk mengajar dan membimbing mahasiswa. Saya ingat dulu saat kuliah dosen saya menyampaikan, “sampai ketemu lagi di kuliah bulan depan, karena selama sebulan ini saya akan berada di Kalimantan.” Saya kira hal ini tidak etis karena panggilan dan tugas utama dosen ialah menjalankan Tri Dharma pendidikan.

Selain itu ada juga dosen yang memiliki banyak ilmu, ahli dalam proyek – proyek di industri, namun sangat sedikit berbagi dengan mahasiswa. Bahkan saat mengajar juga tidak fokus karena terlalu sibuk dengan proyeknya. Dalam hal ini saya menyebut pengerjaan proyek tersebut “sia – sia”. Karena hal itu tidak memberdayakan orang lain (mahasiswa), hanya menguntungkan dirinya sendiri saja.

Kesimpulan

Jadi, bagaimana kesimpulannya? Menurut saya pribadi, dosen perlu mengerjakan proyek. Meski hal tersebut tidak mudah dan menuntut effort lebih, namun demi kualitas pengajaran bagi mahasiswa hal itu layak diusahakan. Selain itu, dosen perlu menjauhkan diri dari keinginan untuk “mengumpulkan uang sebanyak – banyaknya” dari proyek. Motivasinya harus diganti dengan keinginan untuk memberdayakan mahasiswa agar lebih siap dunia kerja.

(Note : Jika memang uang ialah tujuannya, seharusnya orang jangan menjadi dosen, jadilah seorang technopreneur. Profesi tersebut juga tidak kalah terhormatnya untuk membangun bangsa..)

Demikian pemikiran saya, ada komentar?

Mempersiapkan Mata Kuliah Baru

Semester ini saya akan mengajar Mata Kuliah yang baru di jurusan saya. Apa ya yang harus saya siapkan? Setelah berpikir sejenak, berikut hal – hal yang harus saya siapkan :

1. Mempersiapkan content

Content atau isi adalah “bahan utama” dari suatu Mata Kuliah. Saya sebagai dosen harus menguasai topik MK sebaik mungkin. Saya perlu membaca (dan memahami) topik tersebut dari beberapa buku teks yang ada di perpustakaan. Diskusi dengan kolega dosen ataupun browsing di internet akan membantu pemahaman (dan pendalaman) topik tersebut.

2. Mempersiapkan presentasi

Karena saat ini hampir setiap MK dibawakan melalui presentasi Power Point, hal berikutnya yang harus dilakukan ialah mempersiapkan presentasi. Menterjemahkan pemahaman (dari buku teks) ke dalam presentasi yang baik dan menarik itu tidak mudah. Saya harus mengartikulasikan pemahaman tersebut ke dalam beberapa baris tulisan singkat (plus gambar).  Salah satu catatan saya, lebih baik membuat presentasi sendiri (meski sederhana), daripada menggunakan presentasi orang lain (yang sekarang bisa didapat dengan gampang dari internet).

3. Mempersiapkan metode pembelajaran

Perkuliahan bukanlah ceramah 1 arah dari dosen. Dosen harus makin kreatif untuk membelajarkan mahasiswa. Untuk itu, perlu waktu dan ide untuk membuat mahasiswa mau belajar. Mungkin dengan diskusi yang memancing ide, presentasi dengan topik menarik ataupun membuat project yang aplikatif. Intinya, kita harus menyiapkan metode pembalajaran selain ceramah.

4. Mempersiapkan metode evaluasi

Hal yang berikutnya yang harus disiapkan ialah metode evaluasi. Melakukan evaluasi itu tidak mudah. Saya harus yakin bahwa saya tidak hanya mengamati hasil tetapi proses. Saya juga harus mengusahakan evaluasi sebagai pemberian umpan balik yang mencerdaskan, bukan sekedar ujian yang menegangkan. Apa dan bagaimana evaluasi membutuhkan pemikiran mendalam.

5. Mempersiapkan sharing nilai – nilai kehidupan

Last but not least, saya perlu mempersiapkan nilai – nilai apa yang ingin saya share pada mahasiswa semester depan? Karena dosen bukan hanya memintarkan mahasiswa (sisi kognitif) saja, namun juga harus memuliakan mahasiswa (sisi moral, spiritual). Alangkah sayangnya jika pengajaran kognitif yang hebat tidak dibarengi dengan pemberian nilai – nilai luhur dan kekal dari Sang Pencipta.

Jadi, sudah siap mengajar semester depan?😀

Web 2.0 bagi Pendidik – Pendahuluan

Apakah anda seorang pendidik? Guru atau dosen mungkin? Jika iya, apakah Anda sudah memanfaatkan internet sebagai alat untuk membantu proses pembelajaran anak didik Anda? Jika Anda belum melakukannya, mari mulai berpikir untuk menerapkannya!

Internet di era sekarang disebut dengan Web 2.0. Apa artinya? Internet generasi ke dua ini menekankan pentingnya kolaborasi dan interaksi dari pembuat dan pengguna web.

Secara sederhana, hal ini tentu sangat membantu para siswa/mahasiswa untuk belajar lebih baik. Bayangkan jika kapanpun dan dimanapun mereka masih bisa “terhubung” dengan rekan – rekan (maupun guru/dosennya) untuk berdiskusi tentang hal – hal akademis. Wow!

Secara pribadi, saya mulai menyadari pentingnya internet untuk media pembelajaran dengan membuat blog yang berhubungan dengan bidang ilmu saya. Beberapa ulasannya sudah saya sampaikan di posting sebelumnya.

Hal ini berlanjut saat saya menemukan buku bagus berjudul “Web 2.0 – Panduan bagi Para Pendidik” (Penerbit Indeks, 2011). Dari buku itu, saya mendapatkan banyak wawasan bahwa banyak sekali tool di internet yang dapat digunakan untuk membantu anak didik dalam belajar. Blog, Facebook, Twitter, podcast, Wikipedia, adalah beberapa terminologi internet populer yang dibahas dalam buku ini.

Saya berharap bisa membahasnya (disertai dengan pengalaman pribadi) pada posting – posting mendatang.

Happy teaching!

Rahasia Sukses Pendiri Google (1)

Google? Mungkin “ia” adalah sahabat terbaik pengguna internet. Kemampuannya memberikan hasil pencarian dengan cepat, akurat, dan (nyaris) bebas iklan sangat disenangi banyak orang. Saat ini Google menjadi perusahaan raksasa tingkat dunia.

Apa rahasia sukses para pendiri Google?

 

Latar belakang dan budaya keluarga

Sergey Brin dan Larry Page memiliki banyak kesamaan latar belakang. Mereka telah mengenal komputer sejak masih di usia SD, di bawah bimbingan orang tua yang menggunakan komputer dan matematika canggih baik di rumah maupun di kantor (kebetulan ayah mereka adalah profesor yang disegani).

Keduanya sama – sama dibesarkan dalam keluarga dengan adu otak sebagai menu sehari – hari. Belajar mempertahankan gagasan yang diyakini secara mati – matian membuat mereka memiliki kedalaman intelektual yang sulit ditandingi oleh orang semuda mereka. Mereka digambarkan orang lain : “cerdas, ramah, dan agak eksentrik”. Baca lebih lanjut

Ekonomi Pengetahuan Ala Indonesia

Anda pernah mendengar tentang “ekonomi pengetahuan”? Secara sederhana, ekonomi jenis ini tidak lagi mendasarkan dirinya pada sumber daya alam yang melimpah, namun lebih menekankan pada pentingnya sumber daya manusia dengan tingkat pengetahuan tinggi. Di era modern ini, barangsiapa menguasai pengetahuan (meski miskin sumber daya alam) akan menjadi yang terdepan.

Dan percaya atau tidak, sebenarnya bangsa kita tercinta juga memimpikan hal yang sama. Prof Zuhal mengutip bahwa misi Indonesia di tahun 2025 ialah

Mewujudkan bangsa yang berdaya saing lewat penguasaan dan pemanfaatan IPTEK

Lebih lanjut beliau menyatakan bahwa untuk mewujudkannya diperlukan hubungan segitiga antara :

  • Penguasaan IPTEK
  • Daya saing
  • Knowledge based economy

Misi di atas tentunya hanya sekedar mimpi jika tidak diukung tatanan sistem ekonomi politik Indonesia yang kondusif. Untuk menciptakannya, perlu dipahami bahwa sumber daya manusia (human capital) adalah aktor utama dalam sistem inovasi nasional (Sinas). Human capital yang diinginkan bangsa ini harus memiliki :

  • etika moral dan kemanusiaan
  • semangat nasionalisme dan kerakyatan
  • mengutamakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Namun demikian, human capital bukanlah sistem yang berdiri sendiri, namun harus berproses dengan tiga unsur berikut : Baca lebih lanjut

Mengajar mahasiswa untuk menjadi “pembelajar seumur hidup”

Sebagai dosen di kampus, tantangan besar yang harus dihadapi ialah bagaimana menolong mahasiswa untuk menjadi “pembelajar seumur hidup“.

Apa artinya?

Sangat mungkin bagi dosen dan mahasiswa di Indonesia untuk kembali mengulang pola pendidikan yang telah didapat sebelumnya. Sudah menjadi rahasia umum kalau anak – anak Indonesia lebih cakap menghafal ataupun menggunakan rumus untuk mengerjakan soal. Namun mereka (bahkan pengajar seperti saya) kurang cakap dalam menganalisa maupun memahami alasan di balik penggunaan rumus.

Pada akhirnya, mahasiswa (atau sebelumnya siswa) hanya menjadi pengulang yang tidak kreatif dan inovatif dalam memcahkan masalah. Apalagi jika dihadapkan pada permasalahan baru yang belum ada sebelumnya. Dengan kata lain, mahasiswa hanya menjadi pembelajar dalam masa kuliah dan karena diminta oleh dosen (selain orang tua dan pacar🙂 ).

Baca lebih lanjut