Ekonomi Pengetahuan Ala Indonesia

Anda pernah mendengar tentang “ekonomi pengetahuan”? Secara sederhana, ekonomi jenis ini tidak lagi mendasarkan dirinya pada sumber daya alam yang melimpah, namun lebih menekankan pada pentingnya sumber daya manusia dengan tingkat pengetahuan tinggi. Di era modern ini, barangsiapa menguasai pengetahuan (meski miskin sumber daya alam) akan menjadi yang terdepan.

Dan percaya atau tidak, sebenarnya bangsa kita tercinta juga memimpikan hal yang sama. Prof Zuhal mengutip bahwa misi Indonesia di tahun 2025 ialah

Mewujudkan bangsa yang berdaya saing lewat penguasaan dan pemanfaatan IPTEK

Lebih lanjut beliau menyatakan bahwa untuk mewujudkannya diperlukan hubungan segitiga antara :

  • Penguasaan IPTEK
  • Daya saing
  • Knowledge based economy

Misi di atas tentunya hanya sekedar mimpi jika tidak diukung tatanan sistem ekonomi politik Indonesia yang kondusif. Untuk menciptakannya, perlu dipahami bahwa sumber daya manusia (human capital) adalah aktor utama dalam sistem inovasi nasional (Sinas). Human capital yang diinginkan bangsa ini harus memiliki :

  • etika moral dan kemanusiaan
  • semangat nasionalisme dan kerakyatan
  • mengutamakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

Namun demikian, human capital bukanlah sistem yang berdiri sendiri, namun harus berproses dengan tiga unsur berikut :

  1. Structural capital, kemampuan dasar mengelola pengetahuan
  2. Relation capital, kemampuan dasar berkomunikasi untuk menularkan pengetahuan
  3. Social capital, aset nirwujud (intangible) berupa jati diri, kepribadian dan karakter yang tangguh, dst.

Selain itu perlu dipahami pentingnya konsteks sosial eknomi yang melingkupi Sinas. Dengan berubahnya perekonomian Indonesia dari resource-based menjadi knowledge-based, maka bangsa kita tidak hanya mengandalkan kekayaan dan keragaman sumber daya alam yang merupakan komioditi dasar bernilai tambah kecil. Dengan knowledge yang baik, maka nilai tambah dapat diperbesar sehingga juga meningkatkan nilai produk yang dijual.

Salah satu kunci kekuatan daya saing yang berkelanjutan adalah penciptaan knowledge based economy. Sistem ini mewadahi keberadaan technology entrepreneur (technopreneur) yang merintis bisnis baru dengan mengandalkan pada inovasi.

Selain itu sinergi antara Perguruan Tinggi/Lembaga Penelitian (penyedia SDM), Pemerintah (fasilitator dan regulator), dan Bisnis (pemodal dan pencipta pasar) juga sangat penting.

Akhirnya, agar visi pembangunan Indonesia 2025 dapat terwujud, rezim politik yang diinginkan adalah rezim politik knowledge based economy. Untuk menyokong sistem ini, infrastruktur IPTEK mesti diarahkan secara konsisten guna melahirkan generasi muda INOVATOR di segala bidang. Sebab, pada gilirannya, sistem inovasi yang berfungsi baik kelak akan meningkatkan produktivitas, kesejahteraan dan kekuatan daya saing bangsa yang berkelanjutan.

Bab yang saya rangkum ini merupakan tulisan akhir (kesimpulan) dari konsep besar (dan penting) yang disampaikan Prof. Zuhal. Saya merangkumnya untuk memperjelas pemahaman saya sendiri.

Sumber : Zuhal, “Platform Kekuatan Daya Saing”, hal. 461 – 463, Gramedia Pustaka Utama, 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s