Arti sebuah kesempatan (buat kamu – kamu yang bosan kuliah)

Apakah Anda pernah merasa bosan kuliah? Malas, jenuh dan merasa benci setengah mati mengikuti perkuliahan di kampus?

Jika iya, coba pikirkan lagi.

Pernahkah memikirkan apa yang membedakan kita (yang dapat mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi) dengan orang lain? Saya sering kali mengamati banyak orang mulai yang muda sampai lanjut usia harus bekerja keras membanting tulang untuk memperoleh sesuap nasi. Mereka yang menarik becak, menambal ban, berjualan asongan, dan beribu pekerjaan kasar lainnya. Apa yang membuat saudara sebangsa kita ini harus mengalami kesulitan sedemikian?

Saya yakin salah satu jawabannya ialah karena mereka tidak memiliki pendidikan memadai untuk memperoleh pekerjaan yang lebih layak.

Menurut Bambang Widianto (staf ahli Menneg PPN bidang SDM dan Kemiskinan) hanya 2.7% rakyat Indonesia yang berhasil lulus S1. “Jadi kalau Anda lulus S1, itu elit sekali,” begitu tutur beliau. Melihat statistik yang sedemikian, berarti Anda, mahasiswa, lebih beruntung dibanding 97.3% rakyat Indonesia lain yang tidak punya kesempatan untuk kuliah.

Saya yakin, bukan berarti mereka yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi itu berarti kurang pandai ataupun malas (meski ada juga yang demikian). Namun banyak juga yang dikarenakan mereka tidak punya kesempatan dan akses pada pendidikan yang memadai.

Kesempatan di sini saya artikan sebagai “peluang yang muncul dari kesiapan sarana fisik – mental”. Banyak sekali anak yang pandai namun tidak memiliki cukup dana untuk bisa bersekolah sampai ke jenjang pendidikan tinggi. Atau ada juga anak yang orang tuanya tidak menyadari pentingnya pendidikan sehingga pada akhirnya dia tidak memiliki pola pikir terdidik yang baik.

Pertama kali saya bersentuhan dengan kesempatan ini adalah saat hendak menolong salah seorang teman yang bersemangat dan cukup pandai untuk masuk ke salah satu PTN di Surabaya. Tapi apa daya, meski nilai ujiannya memenuhi, ia tetap tidak dapat mengikuti kuliah karena keterbatasan dana.

Karena itu, saat saya berkesempatan menyekolahkan adik saya, saya punya 1 tekad untuk membekali dia dengan pendidikan yang setinggi mungkin yang bisa ia dapatkan. Mulanya ia hanya ingin kursus, atau mengambil diploma, namun saya meminta dia memilih jurusan S1 yang dia sukai. Sebenarnya saya tidak ingin memaksa dia, saya hanya tahu tanpa pendidikan memadai, orang bisa terpinggirkan di masa depan.

Jadi selama orang tua (atau ada pihak lain) masih memberi semangat, menyediakan dana dan fasilitas untuk mengikuti kuliah sampai lulus, jangan sia – siakan itu. Syukurilah dan gunakanlah kesempatan ini sebaik – baiknya.

Dan suatu saat, jika Anda berhasil, jangan lupa memberikan hadiah terbaik bagi orang lain. Pendidikan.

Maju terus pendidikan Indonesia!

11 thoughts on “Arti sebuah kesempatan (buat kamu – kamu yang bosan kuliah)

  1. kbow

    yang namanya pendidikan emang penting, ya saling terpaut lah…gak ada yang namanya metode terjadi karena interaksi…pendidikan yang lo dapet hanya sebuah metoda, tinggal pinter2nya adja berinteraksi dengan ilmu yang lo dapet…tapi kenyataannya…memang banyak orang yang kaya dari menyelesaikan pendidikannya (tapi pendidikan yang gimana dulu) dan mandapatkan UANG….kita rewind lagi deh asal usul kenapa kita harus kuliah…ya klo mo dapet UANG…yah belajar sampai setingi-tingginya…lulus S-1 (paling bisa jadi pegawai), pengen nambah UANG biar banyak lagi yah kuliah S-2/master/profesi (Lumayan bisa jadi praktisi and lainnya)…jadi pada basicnya semua karena UANG yang harus dikeluarkan klo pengen dapet UANG setelah lulus (hukum alam = keluarnya banyak ya hasilnya banyak, keluar dikit ya hasilnya dikit…kecuali lo anak aburizal bakrie dan berkeinginan kuliah setingi – tingginya)…ko ngomongin UANG terus seh, emang hal lumrah kale yang namanya hidup di muka bumi ini selain UANG dan KEIMANAN..memang banyak orang yang gak butuh uang, gak peduli uang (sah2 aja) tapi uang tuh PENTING, jadi biaya yang lo keluarin klo dilihat secara real saat bekerja nanti yah gak sepadan (nabung adja ampe tua terus koit..he..he..yah kecuali seperti yang dibilang di atas lo anaknya aburizal bakrie)…eits, mo berapa nunggu lamanya lo berkutat dengan perkuliahan nunggu tua dulu baru kaya (itupun klo lulus tepat waktu…tapi menurut lingkungan, yang muda harus selalu mengalah dulu pada yang tua (senior)di dunia pekerjaan…makanya kenapa yang kaya banyak yang tua…periksa deh di BPS (biro pusat statistik) berapa banyak eksekutif muda di umur 25 – 28 setelah menjadi sarjana…jawabannya 0%..yang gede malah pengangguran 30% – 50% naik tiap tahunnya)…ngomong deh ama orang tua lo secara baik2 apa yang ingin hati lo kerjain, klo menurut lo kuliah memuakkan…PILOT OF YOUR LIFE, yang namanya orang tua hanya memfasilitasi apa yang menurut mereka baik…basicnya lo akan berdiri sendiri, baik buruknya dari apa yang lo kerjakan…jadi kesimpulannya jangan salahkan sistem pendidikan di indonesia, tapi salahin sistem pekerjaan yang ada di indonesia…pada basicnya semua ilmu baik (kecuali ilmu copet ama pesugihan..wkwkwk…), lo kembangin adja apa yang ada di sekitar lo…BAsicnya mah perkembangan diri…jagn nyamain kaya bill gate yang DO, bob sadino yang cuman lulusan 5 sd, mereka munkin gak kuliah tapi tau diri mereka harus dibawa kemana, yah basicnya karena pendidikan atau ilmu…

    Balas
  2. ivvan klashnic

    emang kuliah itu pening, , dan emang dengan kita kuliah kta akan dapt pekerjaan yang layak namun jujur kali ini ak bingung dengan tujuan kuliah sekarang ini. buat nyari ilmu? ahhh itu hanya gurauan yang gak lucu, ak yakin sangat kecil kemungkinan alasan kuliah untuk mencari ilmu, yang pasti untuk mendapat pekerjaan layak. tapi banyak dari temen2 kuliahq yang lulus dengan nilai yang cukup bagus namun buktinya msih kesulitan mendapat pekerjaan. sebenarnya apa yang salah, sistem pendidikan? mungkin. cz liat aja, masak anak lulusan teknik mesin ngelamar jadi marketting di sebuah perusahaan ketrima. bukankah itu lahanya anak2 ekonomi manjemen. trus buat apa dia dulu milih jurusan teknik mesin. trus buat perusahaan kok bisa2nya nerima dia. sebenarnya yang salah perusahaan atau pendidikan.
    yang kedua ada yang bilang kuliah jadi aktivis dapat link banyak, sebenarnya aq mengatakan kalau temen2 itu banyak tertipu akan semunya organisasi, jaringan banyak tapi kita tidak memiliki kemampuan yang memadai akan sia2 juga kan.
    banyak pengangguran dengan titel s1, sebenarnya apa yang salah? ???
    give me answer. . .

    Balas
    1. Handy Penulis Tulisan

      Salam Mas Ivvan,
      Saya akan sampaikan pendapat saya ya..
      Apa tujuan kuliah? Menurut saya secara sederhana ialah mencari bekal yang nantinya dapat digunakan untuk bekerja. Bekal ini bisa berupa hardskill (kemampuan teknis) dan softskill (kemampuan non teknis), dimana keduanya harus dimiliki dengan baik oleh mahasiswa. Makanya saya setuju kalau hanya jadi aktivis tapi nilai C terus ya percuma..

      Next, mengapa mahasiswa yang lulus dengan nilai bagus masih susah dapat kerja? Kemungkinan pertama, mahasiswa tersebut tidak punya softskill yang cukup, jadi saat tes diskusi/debat, dst, dia gagal. Kemungkinan kedua, ilmu yang didapatkan di kampus kurang sesuai dengan lapangan pekerjaan, dan sang mahasiswa kurang mahir untuk belajar hal – hal baru dengan cepat.

      Lalu apa yang salah, sistem pendidikan atau pekerjaan? Menurut saya di Indonesia dua – duanya memang perlu diperbaiki. Sistem pendidikan harus makin memperlengkapi mahasiswa dengan kemampuan teknis yang memadai dan bisa sedekat mungkin dengan dunia kerja. Meski idealnya kalau lulusan universitas akan jadi ilmuwan/peneliti, sedang lulusan politeknik akan bekerja di industri, dll. Sedang sistem pekerjaan di kita juga bermasalah, misalnya : pekerjaan berbau teknis yang sulit bisa mendapat gaji yang jauh lebih kecil daripada pekerjaan marketing. Memang negara kita ini negara konsumen, jadi yang bisa menjual ke konsumen yang lebih untung..

      Di atas semua itu, kalau kita cari benar – salahnya terus tidak akan ada hentinya mas. Lebih baik kita fokus dan yakin kalau di jurusan yang kita ambil, kita bisa berkarya optimal untuk Tuhan, bangsa, keluarga dan diri sendiri. Kalau niat kita tulus dan usaha kita dalam belajar sungguh – sungguh, tentu pekerjaan akan selalu ada.

      Demikian menurut saya,
      Trims diskusinya,
      Handy

      Balas
  3. arya

    saya sebenarnya tidak bosan dengan perkuliahan saya, tapi saya benar2 tidak bisa mengikutinya karena ini bukan kemauan saya, ini pilihan orang tua saya benar2 berbeda dengan apa yang saya mau, dan saya sekarang semester 5, saya merasa sangat2 tertekan dengan nilai2 saya, tertekan karena merasa telah mengecewakan orang tua saya, sedangkan saya telah berusaha sekuat tenaga saya untuk mengikutinya, tapi tetap saja hasilnya nihil! apa yang harus saya lakukan? saya mulai membenci diri saya sendiri yang selalu menyalahkan orang tua saya, takut akan masa depan saya nantinya. mohon pencerahannya

    Balas
    1. Handy Penulis Tulisan

      Mas Arya,
      Memang sangat menyenangkan kalau kita bisa melakukan apa yang kita sukai, mengikuti mimpi kita sendiri.
      Namun ada kalanya hal itu tidak bisa kita lakukan. Lalu bagaimana?
      Saya sendiri tidak terlalu suka bidang saya sekarang (elektro), saya tidak hobi nyolder dll. Saya masuk elektro karena kata guru saya pas SMA kalau jurusan elektro (apalagi kalau PTN) itu akan gampang cari kerja. Ya sudah saya masuk elektro.
      Tentu saja kuliah saya biasa – biasa saja, pas semester 5 (seperti anda sekrang) saya seperti mendapat pencerahan kalau sebenarnya elektro ini menarik juga, teknologi yang berkembang sekarang pasti berhubungan dengan elektro, dan rasanya asyik juga kalau saya jagoan di situ! Hasilnya, saya mulai senang dan serius belajar.
      Jadi, kita bisa belajar mencintai sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Kalau menurut Kang hasan di postingnya :
      “If you cannot do what you love, try to love what you do.”
      Tetap semangat!

      Balas
  4. isal

    saya seorang mahasiswa yg belakangan sudah mulai jenuh kuliah, setelah membaca artikel ini saya menyadari betapa beruntungnya saya dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yg lebih tinggi & sudah seharusnya semangat untuk kuliah, terima kasih untuk artikelnya

    Balas
  5. neng

    Bosen kuliah bingung karena saya seorang wanita yang tentunya beragama islam yang dimana dalam islam diwajibkan bagi nya sebuah pernikahan,, naah saya seorang mahasiswi yang baru mau menginjak semester 3 , tapi saat libur kuliah saya diberi kesempatan oleh alloh swt untuk menikah,, nah saya tuh bingung sebenernya setelah menikah hati ini rasa’a tak bisa membagi waktu saya dengan suami saya ,, binguung bgt poko’a .!!!

    Balas
  6. Nito hasbillah

    saya merasa sangat bosan stengah mati dgn kuliah,
    teman2 ,dosen semuanya muak q melihatnya
    sedangkan kuliah kita hrus mmliki niat yg kuat,dlu q mmlikinya namun kini smua lenyap entah kmna,jati dirku belum q temukan ..hidup q hnya memntingkan hal yg mnrut q pnting dan tidak mnruti keinginan org lain,tlong solusinya

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s