Berharganya seorang mahasiswa – belajar dari Erin Gruwell

erin-gruwell-color-2005-photoshopPengantar : Posting berikut “sedikit banyak” saya tulis karena kegundahan saya dengan profesi saya sebagai pengajar juga pelajaran berharga dari seorang Erin Gruwell (foto di sebelah kanan).  Maaf kalau terlalu banyak emosi yang terlibat🙂


Masalah finansial

stacks-of-moneySemua pengajar (untuk saya dosen) tentunya pernah mengalami “kesulitan finansial”. Dengan penghasilan yang (relatif) terbatas, seorang pengajar harus bisa memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya (dan keluarganya). Yah, mungkin hal ini juga dialami oleh semua orang, tapi sudah menjadi rahasia umum, jika Anda berani terjun ke dunia pendidikan maka Anda harus berani untuk menerima penghasilan yang (relatif) terbatas.

Sebagai dosen, sudah bukan rahasia lagi, saya bisa mendapatkan “penghasilan sampingan” dengan : mengerjakan proyek komersial di industri, melakukan berbagai pelatihan, mengajar di sana – sini, ataupun memulai suatu bisnis. Dan daftar tersebut bisa dibuat makin panjang.

Well, saya juga memiliki reaksi yang sama! Saat saya merasa “kurang”, maka akalpun berputar, dan kemungkinan – kemungkinan untuk mendapat penghasilan tambahan menjadi lebih diperhatikan. Namun saya merasa ada yang aneh. Seperti ada sesuatu yang salah..

Panggilan, misi pribadi

personal-mission-stmt-picSaat saya mulai “berpikir kreatif” untuk menghasilkan uang (& terus menerus berpikir), ada sesuatu yang bergeser dalam hati saya. Seolah segala sesuatu yang tidak menghasilkan uang menjadi tidak terlalu menarik dan penting. Hal – hal rutin yang saya biasa lakukan seperti : mempersiapkan kuliah, mengajar, membimbing mahasiswa, … seolah menjadi kurang menarik.

Apa yang terjadi? Saya menyimpulkan hal – hal berikut :

Hanya ada dua hal yang menarik di dunia :

  1. Uang dan segala sesuatu yang bisa dibelinya
  2. Manusia (dalam konteks saya : mahasiswa)


Saya kembali mengingat sekitar 5 tahun lalu mengapa saya melamar menjadi seorang dosen? Saya kembali mengingat 10 tahun lalu tentang apa yang membuat saya merasakan kepuasan yang mendalam dan tak ternilai?

Mahasiswa

Ya, mahasiswa (sebagai manusia) adalah alasan saya (dan mungkin harusnya seluruh pengajar) saat mereka memutuskan untuk bekerja di bidang ini. Menolong mahasiswa untuk bertumbuh, berkembang, berdaya dalam segala aspek hidup mereka (jasmani, rohani) haruslah menjadi panggilan atau misi pribadi seorang dosen.

Kebutuhan akan uang (dan segala hal yang bisa dibelinya) sering kali menjadi alasan saya sebagai dosen untuk menanggalkan panggilan saya. Mulai sering “meninggalkan” mahasiswa tanpa alasan yang jelas. Mengajar tanpa “hati” & kesungguhan. Meletakkan memberdayakan mahasiswa (lahir batin) sebagai prioritas ke sekian. Dan masih banyak lagi hal yang bisa kita lakukan untuk mengabaikan “mahasiswa” saya.

Idealisme

higher_education_fs83a_2Saya secara pribadi masih percaya bahwa pendidikan (dengan segala carut marutnya) masih bisa menjadi “cahaya terang” yang dapat merubah hidup seseorang. Saya senang dengan buku (& film) “Laskar Pelangi” yang menunjukkan bagaimana siswa – siswa (& guru) yang miskin (& terpinggirkan) berusaha untuk meraih mimpi yang luar biasa besar. Dan mereka mencapainya..

Bagaimana dengan kenyataan saya?

Menurut saya, saya memerlukan kerelaan untuk mengalami “kekurangan finansial”, keberanian untuk mengasihi dengan hati, kasih yang tulus pada siswa / mahasiswa (bahkan yang kelihatannya tidak punya harapan), dan seterusnya.

Saya harus meminggirkan dulu kenyataan bahwa “gaji guru/dosen kan memang sedikit”, melupakan dulu apakah pemerintah akan mewujudkan kesejahteraan guru (melalui sertifikasi guru/dosen) secara merata dan segera, dan hal – hal lain yang tidak pasti.

Dan saya harus terus mengingat mahasiswa yang memerlukan sentuhan, dorongan, kasih, pengetahuan, bahkan hidup yang saya miliki. Karena untuk merekalah saya ada! Untuk memberikan hari esok yang lebih baik. Untuk menambahkan 1 sikap yang membangun. Untuk mengajarkan suatu ilmu yang bermanfaat. Dan sejuta alasan baik yang lain.

Belajar dari Erin Gruwell

teach1Saya membaca sebuah buku yang ditulis Erin Gruwell , dulunya seorang guru SMA di Woodrow Wilson High School di Long Beach, California. Bukunya yang berjudul “Teach With Your Heart” menggambarkan perjuangannya dalam mendidik 150 siswa dari berbagai latar belakang ras dan budaya, namun memiliki kesulitan yang sama yaitu hidup dalam kemiskinan, kekerasan, prasangka orang lain, dan berbagai hal buruk lainnya.

Kisahnya sangat menarik (difilmkan dengan judul “Freedom Writer” pada tahun 2007), namun sedikit (dari sekian banyak hal) yang saya pelajari ialah Erin rela menanggung berbagai kesulitan asalkan para siswanya mendapatkan yang terbaik.

  • Ia memberikan uang hasil kerja sampingannya, bahkan uang pemberian orang tuanya untuk membelikan beberapa buku bermutu untuk siswa – siswanya.
  • Ia berusaha keras, menghubungi banyak orang, mencari donatur dan sponsor, serta menghabiskan banyak waktu dan tenaganya supaya siswa – siswa dapat menemui orang – orang hebat dan belajar dari mereka.
  • Ia menerima berbagai komplain dari orang lain (bahkan kolega – koleganya sendiri) karena ia memperjuangkan mahasiswanya.

Perjuangan Erin ini menginspirasi saya untuk kembali fokus pada mahasiswa dibanding hal – hal lain yang kurang penting. Semoga saya bisa terus mempertahankan sikap ini sebagai pertanggung jawaban kepadaNya suatu saat nanti..

Semoga..

P.S. It’s just a note from teacher’s heart…

2 thoughts on “Berharganya seorang mahasiswa – belajar dari Erin Gruwell

  1. endra

    menurut anda, bagaimana cara menghadapi para dosen yang jarang sekali masuk untuk memberikan materi perkuliahan, padahal itu sudah kewajiban dari mereka dan merupakan hak kami sebagai mahasiswa, Mohon untuk nasehatnya.Sekian,Terimakasih.

    Balas
  2. yusca

    saya mau tanya… bagaimana cara belajr seorng mhasiswa yang benar…
    kadang banyak mahasiswa gaya belajarnya kaya ank SMA/SMK, jadi sulit untk melapaskn gya belajr smasa SMA tersbut…

    sekian terimakasih..

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s